Hidup adalah Proses
Oleh :
Edi Rohani, MS
Dalam
kehidupan ini, seseorang mengalami banyak masalah, selesai yang satu muncul
lagi yang lain dan sering kali orang merasa letih menghadapi masalah. Padahal
jika kita tidak menghadapi masalah sedikitpun dalam hidupnya, barangkali kita
mengalami kekosongan dan itu berarti masalah yang lebih besar. Hemat penulis,
masalah yang paling besar adalah kekosongan, karena dalam kekosongan kita
“tidak menjadi”, dan karenanya kita sebenarnya tidak mempunyai “eksistensi” : kita
tiada, kita tidak bisa dinilai, dan tidak mendapatkan nilai.
Barangkali
itulah kodrat manusia, hidupnya bukan untuk kekosongan. Kita lahir dan menjadi,
dan dalam proses menjadi itu kita berbuat, dan ketika berbuat kita menghadap
sesamanya yang sedang menjadi dan berbuat pula. Semuanya sedang menyatakan
eksistensinya masing-masing, dan dalam tahap pernyataan eksistensi itu, satu
sama lain saling berhadapan, berbenturan dan berlawanan. Dalam hidup seseorang
selalu ada kalah-menang, silih berganti, hari ini kita mungkin menang, esok
harinya aku dan seterusnya hingga yang lainya lagi. Isyarat al-Qur’an
menegaskan , al-Yaumu nudawiluha
bainannasi, hari-hari mempermainkan manusia di dalamnya.
Pada
saat kita menang, Kita menghadapi ancaman kekalahan, dan saat kita kalah, kita
mempunyai harapan untuk menang. Sesungguhnya makna menang - kalah terletak pada
bagaimana proses menang dan kalah itu berlangsung dan bagaimana kita menghadapi
kalah-menang itu. Jika kemenangan itu kita capai dengan cara-cara yang licik, kasar
dan melanggar moralitas, maka sesungguhnya kita kalah. Sebaliknya, jika kita
kalah karena kita memang mempunyai banyak kelemahan dan dapat menerimanya
dengan tulus, maka kesadaran akan kekalahan itu tidak mustahil akan membawa
kemenangan di kelak kemudian hari,
Fenomena
menang-kalah sama halnya dengan kegagalan dan kesuksesan, dan setiap orang
pasti menghadapinya dan pernah mengalaminya. Dalam kehidupan tidak ada suatu
apapun yang mulus tanpa cela, tanpa halangan, dan tanpa perjuangan karena
memang hidup adalah proses, sebagai sesuatu yang terus mengalir, seperti air,
dan berjalan secara dialektik. Oleh karena itu, hidup tidaklah statis dan
selesai, karena sesuatu yang stastis adalah mati, sedang selesai adalah hidup
yang sudah berakhir.
Yang
perlu dipahami- karena hidup adalah proses- kita harus hati-hati dan sabar,
karena proses memerlukan waktu yang menuntut kesabaran dan kehati-hatian.
Melupakan proses pada hakekatnya berlawanan dengan kodrat hidup itu sendiri.
Jangan terpaku dalam kalah-menang, gagal-sukses, baik-jahat, benar-salah,
karena semuanya adalah bagian dari proses itu sendiri. Semuanya yang menentukan
adalah proses dan dalam proses itulah maka harga, kualitas, derajat, dan jati
diri seseorang dinilai dan ditentukan bukan pada hasilnya.
**( Edi Rohani)
Ketua
I PC IPNU Wonosobo 2005-2007
(Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah proses yang
menimbulkan tanda tanya besar dalam hidup dan keberhidupan)
0 komentar:
Post a Comment