Home » » ARTIKEL: SELAKSA CINTA TAN MALAKA

ARTIKEL: SELAKSA CINTA TAN MALAKA

Written By Iwan budiyanto on Tuesday, 17 February 2015 | 10:43

Selaksa cinta Tan Malaka
Oleh: Ahmad S Bekti
“Sejarah selalu tentang siapa yang menuliskannya” atau jelasnya memang sejarah milik orang yang menuliskannya. Terlepas dari benar atau tidaknya ungkapan tersebut, sebagai rakyat Indonesia, alangkah baiknya bila kita mencermati sejarah, terutama kisah para pahlawan revolusi yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.
Sebuah bangsa yang dulunya terbonsai oleh kolonialisme dan kini telah merasakan kemerdekaan. Tentunya ada aktor dari para pahlawan-pahlawan bangsa yang revolusioner. Terlebih, pada tokoh yang dianggap kontroversional dalam perjalanan bangsa in yakni, Tan Malaka. Sementara itu ungkapan Sang proklamator bangsa kita yang berbunyi “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” demikian ungkapan Bung Karno. Karena itulah maka peranan Tan malaka dalam pergolakan kemerdekaan bangsa ini patut dan layak untuk di hargai.
Buku ini mengangkat kisah perjalanan hidup Tan Malaka, seorang pahlawan yang sempat dilupakan oleh bangsanya sendiri. Ia menghabiskan dua puluh tahun hidupnya dalam pelarian, “dibuang” ke berbagai negara, dipenjara secara berpindah-pindah, lantas mendapat eksekusi di tanah air yang selama ini dicintainya. Tak banyak orang yang tahu bahwa Tan Malaka-dalam pelariannya yang panjang-membawa napas perjuangan “Merdeka 100%” bagi bangsa Indonesia.
Tokoh yang sangat lama memendam identitas aslinya ini menjadi pelopor berbagai gerakan di kalangan pemuda, bahkan menjadi senior Bung Karno dalam soal revolusi. Dalam masa pengasingan, banyak karya monumental ia susun, yang kemudian menjadi rujukan bagi kalangan sosialis-nasionalis setelahnya, bahkan hingga saat ini. Tan Malaka yang dilahirkan pada tahun 1894 di Sumatera Barat, menempuh pendidikan guru di Bukittinggi, lalu pada tahun 1913 ia berangkat ke negeri Elizabeth untuk meneruskan pendidikannya.
Baru pada pada tahun 1919 Tan Malaka kembali ke Indonesia dan di tempatkan di Deli sebagai guru anak para kuli. Pandangan radikal  yang diperolehnya di Belanda semakin mengental di Deli, sebuah tempat para kuli kontrak di lingkungan yang keras, dan rakyat diperas secara tidak manusiawi oleh perkebunan-perkebunan barat. Jiwa kemanusiaannya untuk menolong dan mengentaskan rakyat (pekerja) dari diskriminasi yang dilakukan oleh perusahan asing tersebut, membuat Tan Malaka terlibat konflik dengan majikannya di Deli.
Setelah itu, Tan Malaka berangkat ke Pulau Jawa dan tak lama kemudian, ia terlibat dalam aksi Partai Komunis Indonesia yang masih muda. Partai yang tergabung dengan Komunis Internasional (Komintern) di Moskow itu di amat-amati oleh pemerintah kolonial karena dianggap membahayakan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah  kolonial bertindak semakin keras terhadap PKI. Pers dibredel, rapat-rapat dilarang, pemogokan dibubarkan, dan para pemimpinnya kerap dikejar-kejar dan dipenjarakan. Tan Malaka juga mengalami nasib yang demikian, pada tahun 1922 ia dianggap berbahaya bagi keamanan dan ketertiban kolonial, sehingga atas wewenang Gubernur Jenderal dan tanpa proses hukum Tan Malaka dibuang Timor. Begitu juga dengan Semaun dan Darsono, pemimpin terkemuka PKI yang telah mewakili PKI di Moskow juga ikut ditangkap dan mengalami deportasi.
Sementara itu, terkait dengan penolakan Tan Malaka terhadap rencana pemberontakan PKI 1926/1927. Setelah dirinya, Semaun dan Darsono di tangkap dan di deportasi dari bumi pertiwi oleh pemerintah kolonial. Muso dan Alimin yang menduduki pucuk pimpinan PKI di Indonesia. Namun, tekanan dari pemerintah kolonial, yang semakin keras, dirasa semakin mempersulit dan mengganjal kegiatan PKI . akibatnya, pelarangan dan keruntuhan partai sudah diambang mata. Dalam upaya matia-matian untuk mencegah hal itu, pada Desember 1925 PKI memutuskan untuk memberontak kepada kolonial.
Waktu itu, Alimin dan Muso sudah dibawah tanah dan melarikan diri, namun masih tetap menyokong rencana pemberontakan tersebut. Mendengar rencana itu, Tan Malaka sangat menentang, karena menurutnya pemberontakan itu akan gagal dan memakan banyak korban jiwa. Karena itu Tan Malaka berupaya dengan sekuat tenaga untuk membubarkan rencana pemberontakan tersebut, namun sia-sia belaka. Pemberontakan di Jawa (November 1926) dan di Sumatera Barat (Januari 1927) dengan mudah dipatahkan oleh kolonial. Akibatnya, PKI dilarang dan ribuan pengikutnya diciduk, banyak dibuang ke Digul, jauh dipedalaman Papua barat yang kejam dan keras.
Setelah kekalahan pemberontakan tersebut, Komintern justru menyatakan bahwa setelah kekalahan itu, memutuskan untuk mengambil keuntungan. Secara berlebihan pemberontakan tersebut dipuji-puji tak peduli benar atau salah. Dalam perebutan kekuasaan di Uni Soviet antara Stalin dan Trotsky, Stalin memanfaatkan pemberontakan tersebut untuk membuktikan analisis politiknya. Karena itu, Tan Malaka merasa telah dikhianati oleh Moskow, baik secara politik maupun pribadi. Menurut Tan Malaka, Moskow tidak perduli pada kejadian-kejadian di Indonesia dan hanya memanfaatkan untuk kepentingan politiknya sendiri. Oleh karena itu, dengan diam-diam pada Juni 1927 ia bersama kedua kawan seperjuangannya Soebakat dan Djamaludin Tamim mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) Di Bangkok sebagai wadah perjuangannya.
Dalam buku ini akan dibahas tuntas mengenai masa pendidikan Tan Malaka, Tan Malaka memimpin sekolah dan parpol, penolakan Tan Malaka terhadap rencana pemberontakan PKI 1926/1927, Tan Malaka ditangkap dan dibuang, , Tan Malaka mendapat testamen politik, aktivitas Tan Malaka di penjara republik   dan lain-lain. Semoga dengan membaca buku ini, kita tidak lagi mengesampingkan peranan Tan Malaka bagi pergerakan nasional untuk menggugah semangat rakyat untuk melakukan revolusi kemerdekaan. Selamat membaca!


Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

Total Pageviews

Popular Posts

Daftar Blog

Arsip Blog

Powered by Blogger.
 
Support : Privacy Policy
Copyright © 2013. FATKHUL ANWAR - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger