Selaksa cinta Tan Malaka
Oleh: Ahmad S Bekti
“Sejarah selalu tentang siapa yang menuliskannya” atau
jelasnya memang sejarah milik orang yang menuliskannya. Terlepas dari benar
atau tidaknya ungkapan tersebut, sebagai rakyat Indonesia, alangkah baiknya
bila kita mencermati sejarah, terutama kisah para pahlawan revolusi yang
memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.
Sebuah
bangsa yang dulunya terbonsai oleh kolonialisme dan kini telah merasakan
kemerdekaan. Tentunya ada aktor dari para pahlawan-pahlawan bangsa yang
revolusioner. Terlebih, pada tokoh yang dianggap kontroversional dalam
perjalanan bangsa in yakni, Tan Malaka. Sementara itu ungkapan Sang proklamator
bangsa kita yang berbunyi “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa
para pahlawannya,” demikian ungkapan Bung Karno. Karena itulah maka peranan Tan
malaka dalam pergolakan kemerdekaan bangsa ini patut dan layak untuk di hargai.
Buku ini
mengangkat kisah perjalanan hidup Tan Malaka, seorang pahlawan yang sempat
dilupakan oleh bangsanya sendiri. Ia menghabiskan dua puluh tahun hidupnya
dalam pelarian, “dibuang” ke berbagai negara, dipenjara secara
berpindah-pindah, lantas mendapat eksekusi di tanah air yang selama ini
dicintainya. Tak banyak orang yang tahu bahwa Tan Malaka-dalam pelariannya yang
panjang-membawa napas perjuangan “Merdeka 100%” bagi bangsa Indonesia.
Tokoh yang
sangat lama memendam identitas aslinya ini menjadi pelopor berbagai gerakan di
kalangan pemuda, bahkan menjadi senior Bung Karno dalam soal revolusi. Dalam
masa pengasingan, banyak karya monumental ia susun, yang kemudian menjadi
rujukan bagi kalangan sosialis-nasionalis setelahnya, bahkan hingga saat ini. Tan
Malaka yang dilahirkan pada tahun 1894 di Sumatera Barat, menempuh pendidikan
guru di Bukittinggi, lalu pada tahun 1913 ia berangkat ke negeri Elizabeth
untuk meneruskan pendidikannya.
Baru pada
pada tahun 1919 Tan Malaka kembali ke Indonesia dan di tempatkan di Deli
sebagai guru anak para kuli. Pandangan radikal
yang diperolehnya di Belanda semakin mengental di Deli, sebuah tempat
para kuli kontrak di lingkungan yang keras, dan rakyat diperas secara tidak
manusiawi oleh perkebunan-perkebunan barat. Jiwa kemanusiaannya untuk menolong
dan mengentaskan rakyat (pekerja) dari diskriminasi yang dilakukan oleh
perusahan asing tersebut, membuat Tan Malaka terlibat konflik dengan majikannya
di Deli.
Setelah
itu, Tan Malaka berangkat ke Pulau Jawa dan tak lama kemudian, ia terlibat
dalam aksi Partai Komunis Indonesia yang masih muda. Partai yang tergabung
dengan Komunis Internasional (Komintern) di Moskow itu di amat-amati oleh
pemerintah kolonial karena dianggap membahayakan. Untuk mengantisipasi hal
tersebut, pemerintah kolonial bertindak
semakin keras terhadap PKI. Pers dibredel, rapat-rapat dilarang, pemogokan
dibubarkan, dan para pemimpinnya kerap dikejar-kejar dan dipenjarakan. Tan
Malaka juga mengalami nasib yang demikian, pada tahun 1922 ia dianggap
berbahaya bagi keamanan dan ketertiban kolonial, sehingga atas wewenang
Gubernur Jenderal dan tanpa proses hukum Tan Malaka dibuang Timor. Begitu juga
dengan Semaun dan Darsono, pemimpin terkemuka PKI yang telah mewakili PKI di
Moskow juga ikut ditangkap dan mengalami deportasi.
Sementara
itu, terkait dengan penolakan Tan Malaka terhadap rencana pemberontakan PKI
1926/1927. Setelah dirinya, Semaun dan Darsono di tangkap dan di deportasi dari
bumi pertiwi oleh pemerintah kolonial. Muso dan Alimin yang menduduki pucuk
pimpinan PKI di Indonesia. Namun, tekanan dari pemerintah kolonial, yang
semakin keras, dirasa semakin mempersulit dan mengganjal kegiatan PKI .
akibatnya, pelarangan dan keruntuhan partai sudah diambang mata. Dalam upaya
matia-matian untuk mencegah hal itu, pada Desember 1925 PKI memutuskan untuk
memberontak kepada kolonial.
Waktu itu,
Alimin dan Muso sudah dibawah tanah dan melarikan diri, namun masih tetap
menyokong rencana pemberontakan tersebut. Mendengar rencana itu, Tan Malaka
sangat menentang, karena menurutnya pemberontakan itu akan gagal dan memakan
banyak korban jiwa. Karena itu Tan Malaka berupaya dengan sekuat tenaga untuk membubarkan
rencana pemberontakan tersebut, namun sia-sia belaka. Pemberontakan di Jawa
(November 1926) dan di Sumatera Barat (Januari 1927) dengan mudah dipatahkan
oleh kolonial. Akibatnya, PKI dilarang dan ribuan pengikutnya diciduk, banyak
dibuang ke Digul, jauh dipedalaman Papua barat yang kejam dan keras.
Setelah
kekalahan pemberontakan tersebut, Komintern justru menyatakan bahwa setelah
kekalahan itu, memutuskan untuk mengambil keuntungan. Secara berlebihan
pemberontakan tersebut dipuji-puji tak peduli benar atau salah. Dalam perebutan
kekuasaan di Uni Soviet antara Stalin dan Trotsky, Stalin memanfaatkan
pemberontakan tersebut untuk membuktikan analisis politiknya. Karena itu, Tan
Malaka merasa telah dikhianati oleh Moskow, baik secara politik maupun pribadi.
Menurut Tan Malaka, Moskow tidak perduli pada kejadian-kejadian di Indonesia
dan hanya memanfaatkan untuk kepentingan politiknya sendiri. Oleh karena itu,
dengan diam-diam pada Juni 1927 ia bersama kedua kawan seperjuangannya Soebakat
dan Djamaludin Tamim mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) Di Bangkok
sebagai wadah perjuangannya.
Dalam buku
ini akan dibahas tuntas mengenai masa pendidikan Tan Malaka, Tan Malaka
memimpin sekolah dan parpol, penolakan Tan Malaka terhadap rencana
pemberontakan PKI 1926/1927, Tan Malaka ditangkap dan dibuang, , Tan Malaka
mendapat testamen politik, aktivitas Tan Malaka di penjara republik
dan lain-lain. Semoga dengan membaca buku ini, kita tidak lagi mengesampingkan
peranan Tan Malaka bagi pergerakan nasional untuk menggugah semangat rakyat
untuk melakukan revolusi kemerdekaan. Selamat membaca!
0 komentar:
Post a Comment